homohomini socio

homo homini socio

Pengertian Homo homini lupus socio banyak sekali yaitu manusia adalah serigala, manusia tidak bisa hidup sendiri, serigala bagi manusia itu sendiri, dan lain lain.menurut saya sendiri arti dari homo homini lupus adalah manusia bisa menjadi serigalanya sendiri jika mereka tidak bersosial dan egois( manusia bisa memakan dirinya sendiri jika mereka tidak bisa mengontrol diri dalam bersosial dan bermasyarakat.babnyak sekali cerita mengenai homo homini social dan saya ingin menceritakan beberapa cerita tersebut.

‘’Siang ini, saat pulang naik angkot dari klinik tempat saya bekerja, saya tiba-tiba keinget dengan istilah ‘Homo Homini Lupus’. Istilah latin yang berarti ‘Manusia adalah serigala bagi sesamanya’ ini, tiba-tiba masuk aja ke dalam pikiran saya setelah melihat ulah si supir angkot.
Jadi begini ceritanya…. di pertengahan jalan, angkot kuning yang saya tumpangi menjumpai angkot kuning lain. Entah gimana kejadian sebelumnya di angkot kedua itu, tampak ada sepeda motor yang terjatuh di belakang angkot kedua itu. Pikiran saya langsung berpikir, ‘wah bisa rame nih…’ Menurut pemahaman saya,, tu motor jatuh di belakang angkot, kemungkinan karena angkot di Indonesia (seperti kita tahu), sering ngerem super mendadak, dan mungkin si pengendara motor ga keburu injek rem, lalu jadi deh tabrakan itu.

Well, diluar itu, si supir angkot yang saya tumpangi melihat kejadian itu, lalu tiba-tiba mengerem (lagi-lagi mendadak ckckck…). Di situ juga ada beberapa pengendara motor dan orang-orang sekitar, meski emang ga begitu rame. Si supir angkot kedua (yang ditabrak) tampaknya sudah menguasai situasi dan emang udah siap naik mobilnya lagi. Dia melihat angkot yang saya tumpangi ngerem terus mundur (seperti biasa…:D), klakson-klakson.. Awalnya saya pikir emang niat nya mo bantuin temennya (yang notabene sama-sama angkot kuning dengan tujuan yang sama). Si supir angkot kedua pun udah angkat tangan, menandakan semua oke-oke. Eh, ternyata supir angkot yang saya tumpangi klakson-klakson,, dan teriak-teriak ‘ayo mas, naik-naik, berangkat….’ (o_O??)

Dalam hati, saya tertawa, dan langsung seketika istilah Homo Homini Lupus itu. Yah, di Jabodetabek tampaknya gambaran orang saling sikut, saling menjatuhkan emang ga usah di tutup-tutupin lagi. Dan istilah ini pas banget dan seketika menyentak hati kecil saya. Tahukah anda istilah ini pertama kali disebutkan oleh Plautus tahun 495, yang artinya lebih dari 1500 tahun yang lalu?? Jadi masih kah kita menjadi serigala bagi sesama kita?? Bahkan sudah lebih dari 1500 tahun, dan kita masih belum sadar juga??
Yah, semoga kisah sederhana ini menyadarkan kita akan pentingnya arti manusia. Kita ini manusia, bukan serigala.. Oke..:D

Nah,pesan yang bisa kita petik dari kejadian di atas adalah manusia bisa saling menjatuhkan dan tidak saling tolong jika mereka bersifat egois dan tidak mau repot akan sebuah masalah yang menimpa orang lain di sekitasrnya.apakah anda pernah seperti itu? Klo boleh jujur saya sering seperti itu.

Cerita lain nya yang menggambarkan tentang homo homini lupus.

SEORANG kawan pernah berkeluh kesah, tapi bukan soal video syur artis mirip Ariel, Luna Maya, dan Cut Tari. Dia mengaku sering punya pengalaman kurang menyenangkan, kalau tidak dikatakan buruk. Pasalnya, dia sering waswas ketika mengendarai sepeda motor untuk berbagai keperluan, terutama ketika berangkat atau pulang kerja.

“Terus terang nyali saya sering ciut ketika mengendarai motor di jalan. Orang sekarang seperti tidak lagi sayang sama nyawa. Coba saja, ketika saya mengendarai motor di jalurnya (yang benar), tiba-tiba dari arah depan, seorang pengendara sepeda motor seenaknya menggunakan jalur berlawanan. Kalau saya tidak mengalah dengan sedikit ke pinggir, mungkin sudah terjadi tabrakan,” ungkapnya serius.

Menurut kawan yang sering “bawel” dengan berbagai fenomena yang terjadi ini, pengalamannya itu bukan hanya satu atau dua kali saja, tapi sudah masuk kategori sering. Paling tidak sejak lima tahun terakhir selama sekitar 10 tahun ia tinggal di Bandung.

Bahkan pengalaman buruk di jalanan dialaminya juga dalam bentuk lain. Misalnya ketika pengendara lain sedikit saja tersentuh (bukan tersenggol) motornya, mata si pengendara langsung melotot. Tak hanya itu, makian sampai ajakan berkelahi pun pernah diterimanya hanya gara-gara menyenggol sedikit motor orang tanpa ada kerusakan berarti, sekadar lecet-lecet.

Ternyata pengalaman serupa bukan hanya dialamani kawan tadi, tetapi juga oleh banyak orang. Bahkan kita juga pernah mendengar, hanya gara-gara senggolan antara kendaraan di jalan, terjadi perkelahian hingga nyaris merenggut nyawa. Itu terjadi tidak hanya di Kota Bandung, tapi juga di kota-kota besar lainnya, terlebih Jakarta sebagai kota metropolitan. Bahkan di kota kecil seperti Cimahi pun hal serupa sudah mulai menggejala.

Fenomena ini sempat menjadi bahan diskusi kecil dengan beberapa kawan penulis, termasuk kawan yang sudah puluhan tahun berkendaraan roda dua maupun roda empat, baik di Kota Bandung maupun luar kota. Dari diskusi tadi, tersimpulkan (mungkin kesimpulan sementara), ada kecenderungan orang mudah emosi (marah), mudah tersinggung, dan satu sama lain seolah bertemu musuh, apalagi jika terjadi saling balap.

Sebaliknya, saat berkendaraan, apalagi dalam kondisi padat dan macet, orang cenderung miskin senyuman, miskin tegur sapa, apalagi minta maaf. Komunikasi, tentu secara singkat, itu terjadi saat butuh informasi alamat atau karena kebingunngan dengan arah jalan.

Lalu pertanyaannya, gejala apa ini? Apakah ini bagian dari gejala yang disebut seorang ahli filsafat sebagai gejala homo homini lupus, yakni pada kondisi tertentu manusia cenderung seperti serigala, dalam pengertian ekstremnya, satu sama lain ingin saling memangsa. Tentu, kita berharap bukan gejala itu.

Sikap mudah marah, mudah tersinggung, tampaknya akumulasi sikap, perasaan, dan pengalaman yang kompleks, yang selama sekian tahun dialami seseorang. Seperti pengakuan salah satu kawan diskusi, sekitar 10 tahun lalu, ia merasa “kalem” dan tidak mudah bereaksi ketika sedang berkendaraan “diganggu” seseorang. Tapi seperti diakui kawan saya itu, dalam tahun-tahun belakangan, ia jadi merasa sering mudah tersinggung dan reaktif ketika sedikit saja kendaraannya terganggu pengendara lain. Untungnya, ia sudah terlatih mengendalikan emosi.

Jika merujuk John Locke dengan teori tabula rasa-nya, kepribadian atau kemampuan-kemampuan seseorang terbentuk melalui berbagai pengalaman hidup. Bisa jadi, selain pengalaman atau pengetahuan seseorang saat mengendara di perjalanan, film sarat kekerasan, konflik atau kekerasan yang ditayangkan TV dan berbagai media lainnya pun menjadi faktor pembentuk karakter marah dan tersinggung tadi.

pesan saya dari cerita ini adalah, , baik lingkungan bermain, lingkungan di jalan raya maupun lingkungan lainnya bisa membentuk karakter yang tidak diharapkan seperti di atas. Barangkali, tugas kita semua, terutama para orangtua, pendidik, dai/ustaz dan komponen lainnya, untuk melakukan edukasi bagi anak-anak dan masyarakat umumnya, sebelum gejala-gejala masif tersebut betul-betul menjadi budaya yang mengkristal pada pribadi-pribadi masyarakat.

Ego seperti apakah yang membuat manusia menggurat sejarah kekerasan dalam perbudakan-rasisme, Holocaust-rasisme, seksisme yang menyuburkan perdagangan manusia untuk kepentingan prostitusi, lalu yang sedang marak disoroti saat ini adalah kekerasan karena spesiesme. Mungkin sudah saatnya bagi manusia melihat jernih kekerasan karena spesiesme. Spesies manusia merasa lebih unggul dari spesies hewan hingga ‘boleh’ diperlakukan sebagai ‘milik-properti’ . Hewan diperlakukan tak beda dengan benda. Perasaan takut, marah, sakit saat disiksa hingga meregang nyawa ‘tak terlihat’ oleh ego manusia. Manusia sedang dan terus memelihara spesiesme ini, pertanyaannya, akan sampai kapan? Manusia butuh kejernihan hati dan akal, menimbang kembali apakah spesiesme layak dipelihara. Jika saja ada spesies yang lebih unggul dari manusia, penguasaan teknologi lebih tinggi dari manusia, manusia bisa saja dieksploitasi, dijadikan objek penelitian, bahkan dijadikan makanan. Saya jadi ingat film the Island, sebuah film futuristik yang mengisahkan tentang komodifikasi manusia kloning untuk kepentingan asuransi kesehatan.

Jaminan kesehatan diberikan dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan adanya manusia kloning. Semua potensi penyakit dapat diatasi. Jika secara genetik Anda memilki potensi penyakit ginjal, diabetes atau jantung, Anda tidak perlu khawatir asal punya DUIT membayar asuransi, organ manusia kloning siap mengganti semua ‘onderdil’ yang bermasalah dalam tubuh Anda. Manusia kloning dengan rekayasa genetik sedemikian rupa diprogram agar tumbuh menjadi manusia yang super sehat untuk menjaga kualitas organnya. Namun rasa dan emosi mereka telah disetel, diprogram sedemikian rupa agar tidak ‘hidup’. Manusia kloning hidup tanpa rasa dan emosi meski dalam akhir cerita ada manusia kloning yang menyimpang , ada manusia kloning yang tetap punya emosi, hingga memberontak. Mereka tak ubahnya ‘benda’. Di sini manusia satu tidak melihat kelayakan yang sama dengan manusia lainnya, hingga Homo Homini Lupus, dominasi sesama spesies subur dan ’sah-sah’ saja. Spesies manusia yang berduit ‘boleh-boleh’ saja memperlakukan manusia kloning sesuai kebutuhan mereka, karena mereka dianggap spesies manusia-benda.

Dalam dunia nyata wajah homo homini lupus sebenarnya tak asing dalam kasus perdagangan manusia entah untuk kepentingan sebagai buruh pabrik, pekerja di dunia prostitusi dengan berbagai modus. Di China modus terbanyak adalah penculikan, mulai dari anak kecil (biasanya untuk dijadikan pekerja seks untuk pedofilia) dan di Indonesia modusnya memanfaatkan keterjepitan keadaan ekonomi. Sebuah kasus di tempat saya dinas dulu terungkap, modus yang digunakan adalah meminta langsung ke orang tua korban dengan memberi segepok uang ke orang tua korban hingga rela melepas anaknya untuk dipekerjakan di Jepang sebagai duta budaya. Kenyataannya, setelah korban sampai di tujuan, korban disodorkan nota utang berisi rincian biaya perjalanan dan biaya pengurusan imigrasi dll. Kondisi terjepit seperti ini, korban tidak memiliki pilihan, hingga terpaksa bekerja di ‘panti’ jauh berbeda dari yang dijanjikan sebelumnya. Sampai pada titik ini, manusia juga telah melihat manusia lain tak ubahnya benda tak berhak punya rasa, yang bisa dieksploitasi. Mungkinkah bakat homo homini lupus ini lahir dan tumbuh bermuasal, berakar dari sikap spesiesme kita terhadap hewan. Sadar tak sadar kita membiasakan diri ‘membenarkan’ mengabaikan rasa mereka. Kita terbiasa memperlakukan mereka seolah tak berhak punya rasa takut, rasa sakit dan rasa cinta akan hidup mereka sendiri.Sebuah ungkapan dari George Angell (1823-1909) sejalan dengan permenungan di atas. Saya kadang ditanya,”Mengapa engkau menghabiskan begitu banyak waktu dan uang berbicara tentang kebaikan kepada binatang padahal begitu banyak kekejaman atas manusia?” Saya menjawab,”Saya bekerja dari akarnya.”

Homo homini lupus. Bahwa manusia akan saling memangsa dengan sesamanya, telah disinyalir oleh para malaikat ketika Allah swt mengumumkan bahwa Ia Azza wa Jalla hendak menciptakan khalifah di bumi dari kalangan manusia.
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”” (QS 2:30)

Karena sudah wataknya, manusia pun saling menyakiti satu sama lain. Ditopang dengan sifat dendam, membuat pekerjaan saling menyakiti itu menjadi lingkaran setan yang tak pernah putus.

Allah sengaja menjadikan manusia itu sebagai makhluk yang saling memangsa satu sama lain. “Dan Kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan adalah Tuhanmu maha Melihat.”(QS 25:20). Itu semua dalam rangka ujian untuk hamba-Nya. “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS 67:2).

Tetapi keadilan itu ada. Allah menurunkan syariat-Nya yang adil untuk ditegakkan di tengah umat manusia. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita.” (QS 2: 178). Di tangan pemimpin yang adil, syariat ini menjadi syariat yang menjaga kelangsungan hidup manusia. “Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” (QS 2:179)

Dan apabila kezholiman tidak bisa diadukan pada pemimpin yang adil, Allah sendiri Maha Adil. Ia menerima pengaduan hamba-Nya yang terzholimi.”Berhati-hatila

h dengan doa orang yang dizholimi sungguh tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah SWT” (HRBukhori, Muslim, an Nasa’i, ibnu Majah, ad Darimi, dan Ahmad).

Memang kita diberi jalan untuk mencari keadilan. Tapi sebenarnya tindakan zholim orang lain adalah peluang yang besar bagi kita untuk mendulang pahala yang besar dan meraih kedudukan yang tinggi di sisi Allah.

Ada banyak dalil yang menyebutkan keutamaan memaafkan. Tapi saya hendak mengajak pembaca untuk mentadaburi surat Asy-Syuura, pada ayat 39-41. Dalam rangkaian ayat-ayat tersebut Allah dua kali menyatakan bahwa tidak ada dosa bagi penuntut keadilan dan Allah pun juga dua kali menegaskan bahwa bersabar dan memaafkan itu lebih baik. Susul menyusul.

“Dan ( bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri (ayat 39). Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim (ayat 40). Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka (ayat 41). Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih (ayat 42). Tetapi orang yang bersabar dan mema’afkan, sesungguhnya (perbuatan ) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan (ayat 43).”

Allah memperbolehkan untuk menuntut keadilan, tetapi menawarkan yang terbaik. Ada pahala dari Allah serta keutamaan memaafkan dan kesabaran.

Kebaikan dari memaafkan ini tidak cuma didapat oleh yang memaafkan, tapi kadang juga diterima oleh yang dimaafkan. Ya, memaafkan itu kadang mendatangkan kebaikan bagi pelaku kezholiman.

Kadang kala ada suatu kezholiman yang sudah pantas untuk dibalas. Tapi demi kebaikan yang hadir di masa yang akan datang, kezholiman itu tidak dibalas segera. Itu yang berlaku kala Rasulullah ditolak dakwahnya dan bahkan dianiaya oleh penduduk Thoif. Cerita ini sudah sangat masyhur. Saat itu Allah mengutus Jibril dan Malaikat Gunung untuk menemui Rasulullah. Lalu malaikat gunung pun menawarkan Rasulullah untuk meratakan Thoif dengan tanah. Tapi Rasulullah menolak dengan jawaban yang elegan.”Tidak, bahkan aku berharap dari keturunan mereka akan muncul orang yang beribadah kepada Allah yang tidak menyekutukannya”.

Dan harapan Rasulullah pun terwujud. Kelak kemudian lahir ahli fiqh dan ahli ibadah dari penduduk Thoif.

Ada cerita tentang orang yang ujub dan ghurur. Ia merasa sudah rajin beribadah dan berdakwah. Lalu ada sekelompok orang yang menyakiti dirinya. Ia menyangka bahwa orang yang zholim itu tidak akan selamat dari balasan Allah karena telah menyakiti dirinya yang telah beramal sholeh.

Pandangan ini keliru. Betapa banyak sahabat Rasulullah yang tadinya mereka termasuk orang yang gencar sekali memusuhi Rasulullah saw. Ada Umar bin Khattab ra, Abu Sofyan ra, Khalid bin Walid ra, dan banyak sahabat lain. Karena maaf Rasulullah saw lah mereka selamat dari memperoleh balasan atas kejahatan mereka dan menikmati peluang untuk bertaubat dan berbuat baik.

Kejahatan orang lain pada diri kita adalah sebuah bentuk ujian dari Allah. Atas kejahatan orang, kita bersabar; dan terhadap pelakunya, kita memaafkan. Bersabar dan memaafkan itu sangat-sangat baik untuk kita. Jangan mudah dendam, dan jangan sulit memaafkan. Jangan cepat menyangka orang yang berlaku zholim itu tidak akan pernah selamat dari azab Allah. Itu rahasia Allah. Bisa saja orang yang zholim itu justru Allah takdirkan kelak akan memperoleh kebaikan yang lebih dari kita.

Dari Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah saw bersabda, “Allah tertawa melihat dua orang yang telah bunuh membunuh dan keduanya masuk surga. Seorang pejuang berjuang di jalan Allah (Fisabilillah) lalu terbunuh kemudian yang membunuh masuk Islam dan ikut berjihad Fisabilillah sehingga mati syahid terbunuh pula.” (HR Bukhari – Muslim)

Memang ada mekanisme pengaduan kepada Allah. Tapi jangan terburu-buru menghendaki keburukan bagi orang lain. Beri kesempatan orang lain untuk selamat agar bisa memperoleh hidayah. Lebih baik lagi kalau kita yang mendoakannya mendapatkan hidayah.

Selain itu, di balik perilaku jahat orang lain sebenarnya memberi peluang bagi kita untuk dekat dengan orang itu. Mungkin orang tersebut memiliki sesuatu manfaat bagi kita apabila kita dekat dengannya. Misalnya orang tersebut atasan kita. Mungkin kalau kita dekat dengan dia, karir kita bisa lancar atau cepat naik gaji. Nah, salah satu jalan untuk dekat itu sebenarnya adalah perilaku tidak menyenangkan orang itu pada kita. Kalau kita membalasnya dengan kebaikan, maka insya Allah akan terjadi seperti pada firman Allah berikut:

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS 41:34)

Ada banyak sekali keutamaan yang didapat dari memaafkan. Bahkan seorang sahabat dipastikan sebagai ahli surga oleh Rasulullah walaupun ibadahnya tidak istimewa, hanya karena ia suka memaafkan orang lain. Menjelang tidurnya ia sempatkan diri untuk membersihkan hatinya dan memaafkan kesalahan-kesalahan orang lain.

Sudah dikutip di atas, surat Al-Furqaan (25) ayat 20, bahwa Allah menjadikan manusia menjadi ujian bagi yang lain agar manusia itu membuktikan kesabarannya. Itulah hikmah dari “homo homini lupus”.

//chaunkelfakir.wordpress.com/2010/04/10/homo-homini-lupus/

www.wikipedia.com

www.yahoo.com

http://silenceroad.blogspot.com/2008/04/homo-homini-lupusmojokerto-

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s